Avatar
Syahrul H Ubaidallah
fc6371fddc2dd5f5d6863214cd2c28b7757c7c9eda1754a19b96710cb34d095a
Forever a seeker | On the outskirt of Sunni Traditionalism | 🍉

Sejujurnya, kurang sreg dengan konsepsi Wahabisme yang seperti ini. Cukup di-mention bahwa di kalangan Islamis Timteng pun ada Asy‘ari-Sufi, seperti Sh ‘Abd al-Fattāh Abū Ghuddah. Penyamaan Wahabi dengan Islamis saja sudah problematik. https://t.co/2rQQ8SWqFN

It's a good thing that most Islamic lectures and spaces in Indonesia adhere to such a separation, though not as strict as some would expect to find in places such as Tarim. Other than that, both in traditional and modern (secular) settings, the situation is just meh. https://t.co/yZWjbfn76H

Waduh, kalau ini mah sudah jelas...

Perlu diulik juga mungkin sikap organisasi Betawi terhadap kelompok seperti orang Tugu yang kalau kata sebagian orang sekarang mah Betawi juga. https://t.co/xT37uOpUKn

I think we Indonesians (and probably other SEAs) also have this problem. I've seen many cases of such extreme devotion towards parents. Indeed, as a former Hindu-Buddhist country it could be that such idea was absorbed into the culture & passed on even after the spread of Islam. https://t.co/I3aradAyg8

Harusnya lebih banyak muslim (yang teguh dalam pandangan hidup Islam) belajar cultural studies dalam lingkup akademik.

Saya rasa banyak yang ga paham dengan maksud ‘tidak mengatasnamakan NU dalam berpolitik’, makanya kemudian jadi ditandingkan dengan Abah Hasyim pernah jadi cawapres atau apa. NU sudah cukup konsisten dengan kembali ke khittah sejak 1984, jika prinsip itu dipahami secara tepat.

Perasaan saya saja atau memang engagement santri MY dan SG terhadap modernitas jauh lebih intensif daripada santri ID. Itu menjelaskan banyak hal.

Akhir-akhir ini (well, udah agak lama sih) mengulik isu seputar Pilkada DKI kemarin. Lalu menemukan artikel ini, yang menurut gue cukup menarik karena memberi gambaran sosiopolitik & sosiokultural tentang kenapa pengaruh HRS bisa besar sekali di Jakarta.

https://t.co/uetK2VHLQU

Cukup senang juga sih Habib Hanif Alatas muncul (atau dikenal) di publik karena kapasitas keilmuannya, bukan atau tidak hanya terkait afiliasinya dengan FPI https://t.co/DvxnjLcu02

“Ngeri kalau kita bertemu [orang salih] tapi ga bisa memanfaatkan yang ada akhirnya jadi bala’, nah tenang aja, lā, mereka orang baik kok, mereka tidak akan rela mencelakakan musuh, apalagi teman, apalagi murid, apalagi orang yang mereka kenal.”

Hb Ahmad Mujtaba bin Syahab

Kajian Santai Ilmu Fiqih dan Akhlaq #97 || Al-Habib Ahmad Mujtaba bin Shahab

https://t.co/wvNeJdaTX5

Jadi inget dulu pernah ‘nantang’ dosen karena beliau bilang cadar itu ciri kelompok radikal (padahal di MR akhwatnya disarankan bercadar, iirc). Akhirnya pak dosen menerima jika gue ada benarnya wkwk.

Tapi setelah kuliah selesai gue temui beliau pribadi terus minta maaf wkwk. https://t.co/AVnoDkJCVA