'Bom Waktu' Ekonomi RI: Inflasi Gila-gilaan Ancam Tabungan Anda Jika Stimulus Tidak "Amanah".
Pak Menteri Keuangan Purbaya optimis dengan pemerintah yang menyuntikkan likuiditas atau uang dalam jumlah masif ke dalam sistem ekonomi.
Uang pemerintah yang tersimpan di Bank Indonesia (BI) disalurkan melalui kredit perbankan ke sektor riil. Harapannya, bisnis akan berekspansi, daya beli meningkat, dan pasar saham akan naik pesat.
tapi disisi lain.....
kita perlu juga mengenal risiko "mencetak uang" secara tidak langsung :
- Jika penyaluran kredit ini tidak efektif atau terjadi kredit macet, dan pemerintah terus membutuhkan dana besar, BI pada akhirnya harus menyerap surat utang negara.
- Ini akan membanjiri pasar dengan Rupiah, yang dalam 3-5 tahun ke depan berpotensi memicu inflasi yang sangat tinggi (hyperinflation) dan anjloknya nilai tukar Rupiah.
Kita sedang menuju sebuah era di mana jumlah uang Rupiah yang beredar akan meningkat secara signifikan. Dalam jangka pendek (1-2 tahun), ini bisa memicu pertumbuhan ekonomi dan euforia ekonomo baik retail, ataupun asset seperti property, saham, emas dan pasar modal.
Namun, dalam jangka panjang (3-5 tahun), risikonya adalah devaluasi nilai Rupiah dan inflasi yang menggerus kekayaan.
.

Kita bagaimana?
Carilah strategi yang harus diambil adalah memanfaatkan momentum pertumbuhan jangka pendek sambil membangun pertahanan yang kokoh terhadap risiko inflasi jangka panjang.